Oleh: man15jaktim | 10/07/2010

Outbond ala Tentara

Outbond ala Tentara

Outbond ala Tentara

Liputan6.com, Bandung: Sejumlah wartawan media cetak dan elektronik belum lama berselang mengikuti “Outbond Media Dirgantara 2010” di Pangkalan Udara Sulaiman, Bandung, Jawa Barat. Kegiatan yang diselenggarakan Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara (Dispenau) ini berlangsung selama tiga hari.

Reporter SCTV Radityo Wicaksono yang mengikuti acara tersebut melaporkan, outbond lebih mirip pendidikan ala militer. Para peserta layaknya tentara mengikuti kegiatan, antara lain lompat terjun parasut, peluncuran serta melakukan halang rintang yang berupa panjat tali, rapelling dari tower, penyeberangan basah, serta pembalikan perahu secara tim. Instrukturnya berasal dari Skadik 204 Lanud Sulaiman Bandung.

Menurut Kasubdispenum Mabes AU Letkol PNB Dedy Ghazi, “Outbond Media Dirgantara 2010” bertujuan mempererat silaturahmi antara wartawan dengan jajaran TNI AU. Selain itu tujuan kegiatan ini adalah untuk memberikan penjiwaan dan pengalaman kehidupan militer kepada para wartawan.

Siswa Berprestasi Seni Diupayakan Dapat Jaminan Pendidikan
15 Juni 2010 | Laporan oleh ahmad_dj

Surabaya — Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Suyanto menyatakan, seni dan kesenian yang ada pada setiap suku bangsa di Indonesia merupakan sumber inspirasi bagi siswa untuk berkreasi dan berinovasi. Karena itu, Kementerian Pendidikan Nasional mendorong kepada para siswa untuk meluangkan waktu memahami berbagai bentuk seni tersebut.

Suyanto mengatakan, bakat seni perlu dipupuk sejak dini agar seni dapat menjadi bagian dari kehidupan para siswa. Dalam dunia pendidikan, prestasi seni sama pentingnya dengan prestasi akademis dari bidang lainnya. Para siswa yang mempunyai minat dan bakat di bidang seni perlu diberikan arena dari tingkat sekolah sampai dengan nasional. “Penyelenggaraan lomba dan festival dapat dijadikan sebagai arena unjuk keterampilan, ” katanya ketika membuka Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) 2010 di Surabaya, Jawa Timur Selasa (15/6).

Suyanto mengemukakan, pemerintah pusat dan daerah bersama-sama memikirkan cara untuk memberikan penghargaan kepada para siswa yang berprestasi di bidang seni. Cara pemberian penghargaan tidak saja dalam bentuk beasiswa, tetapi juga menjamin kepastian mereka untuk melanjutkan pendidikan sampai jenjang tertinggi. “Kurikulum dari jenjang pendidikan dasar sampai tinggi diselaraskan untuk memfasilitasi para siswa yang ingin menekuni bidang seni,” katanya.

Adapun Anggota Komisi X DPR Dedi Gumelar menambahkan, kesenian bukan hanya industri dan profesi, tetapi sebagai alat untuk menghaluskan budi seseorang. Dengan budi seseorang yang halus, maka jiwa akan sehat dan karakter bangsa akan terbentuk menjadi bangsa yang jaya dan memiliki daya saing internasional. “Kami tidak segan-segan mendorong anggaran untuk seni dan kebudayaan,” katanya. (agung)

Oleh: man15jaktim | 07/07/2010

Kesetaraan Gender Disimposiumkan

Kesetaraan Gender Disimposiumkan
04 Juli 2010 | Laporan oleh Asbulloh, S.Pd

JAKARTA – Masalah peningkatan mutu pendidikan dalam perspektif gender dibahas dalam simposium yang digelar di Gedung A Lantai 3 Kemdiknas, Selasa (06/07). Simposium ini diselenggarakan Pusat Penelitian Kebijakan dan Inovasi Pendidikan, Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang), Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) bekerjasama dengan Kongres Wanita Indonesia (KOWANI). Simposium ini melakukan telaah Kritis tentang Renstra Pendidikan Ditinjau dari Perspektif Gender dalam Peningkatan Mutu Pendidikan.

Simposium menghadirkan para pembicara,  antara lain, Fasli Jalal, Wakil Menteri Pendidikan Nasional (Wamendiknas), Heri Ahmadi, Wakil Ketua Komisi X DPR RI dan Nina Sardjunani, Deputi Menteri PPN/Kepala BAPPENAS Bidang Sumber Daya Manusia dan Kebudayaan. Acara yang dibuka Mansyur Ramly, Kabalitbang, Kemdiknas juga dihadiri Dewi Motik Pramono, Ketua Umum Kowani dan Sita Aripurnami, Women Research Institute.

Dewi Motik Pramono menyampaikan, pendidikan adalah sarana untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan berkontribusi dalam mengembangkan sumber daya manusia yang bermutu. SDM bermutu itu dilihat dengan indikator berkualifikasi ahli, terampil, kreatif, inovatif, serta memiliki attitude (sikap dan perilaku) yang positif. “Kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan yang disediakan bagi warganya,” kata Dewi.

Kata Dewi, dengan semakin meningkatnya komitmen pemerintah mendukung pelayanan pendidikan yang dimulai dari anak sejak lahir sampai usia remaja, maka program pendidikan perlu terus disempurnakan. Hal itu dilakukan, antara lain, melalui kurikulum pendidikan yang berlandaskan pekerti serta berwawasan kesetaraan gender. “Hal ini diperlukan untuk menyelamatkan moralitas anak-anak kita,” lanjut Dewi.

Dalam simposium itu, Wamendiknas Fasli Jalal mengungkapkan, dalam proses belajar mengajar, guru juga mengalami masalah kesetaraan gender. Sebagai contoh, untuk guru Taman Kanak-Kanak dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), jumlah guru perempuan lebih banyak¬† dibadingkan dengan guru laki-laki. “Tidak sampai 3 % dari total guru TK itu yang laki-laki. Oleh karena itu kowani juga bisa membantu bagaimana cara kita menyeimbangkan ini,” kata Fasli Jalal.

“Di SD, presentase guru laki-laki sudah mulai cukup banyak, tetapi masih didominasi oleh perempuan. Sedang proporsi guru di SMP berdasarkan gender itu sudah lebih baik,” tambahnya.

Proporsi yang seimbang justru terjadi di level di SMA/SMK. Di level ini, jumlah guru perempuan dan laki-laki sudah mengalami keseimbangan: 50:50. “Memang dulu dikatakan SMK itu di dominasi oleh laki-laki baik muridnya maupun gurunya, tetapi sekarang dengan berbagai program yang kita mulai sejak 10 tahun yang lalu, sudah bisa dicapai keseimbangan dalam jumlah proporsi antara guru perempuan dan laki-laki,” kata Fasli.

Nina Sardjunani menyampaikan kemajuan kesetaraan gender dapat diukur dari sudut pandang pendidikan antara lain melihat kesetaraan gender dari akses-akses yaitu kesetaraan terhadap pendidikan, kemudian pada proses pendidikan yaitu kesetaraan gender dalam penyelenggaraan pendidikan /dalam penyelenggaraan proses belajar mengajar. “Lalu outcome/hasil yaitu kesetaraan gender melalui pendidikan atau hasil yang dicapai dari pendidikan,” katanya.

Di samping itu, Nina juga mengatakan dalam kesetaraan gender tidak berarti yang dibela habis-habisan hanya perempuan saja, tetapi yang juga harus dibela adalah yang terdiskriminasi. “Jadi di dalam pendidikan kita perlu mendudukkan kesetaraan gender baik untuk laki-laki maupun untuk perempuan secara proporsional,” jelasnya. (edit; Yaidas2010)

Oleh: man15jaktim | 07/07/2010

Pendidikan di Indonesia

Filosofi pendidikan

Pendidikan biasanya berawal pada saat seorang bayi itu dilahirkan dan berlangsung seumur hidup.

Pendidikan bisa saja berawal dari sebelum bayi lahir seperti yang dilakukan oleh banyak orang dengan memainkan musik dan membaca kepada bayi dalam kandungan dengan harapan ia akan bisa (mengajar) bayi mereka sebelum kelahiran.

Bagi sebagian orang pengalaman kehidupan sehari-hari lebih berarti daripada pendidikan formal. Seperti kata Mark Twain, “Saya tidak pernah membiarkan sekolah mengganggu pendidikan saya.”

Anggota keluarga mempunyai peran pengajaran yang amat mendalam — sering kali lebih mendalam dari yang disadari mereka — walaupun pengajaran anggota keluarga berjalan secara tidak resmi.

Pendidikan di Indonesia

Search Wikisource Wikisource memiliki naskah sumber yang berkaitan dengan UU No. 20 Tahun 2003

Jenjang pendidikan

Jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang dikembangkan.

Pendidikan dasar

Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan awal selama 9 (sembilan) tahun pertama masa sekolah anak-anak yang melandasi jenjang pendidikan menengah.

Pendidikan menengah

Pendidikan menengah merupakan jenjang pendidikan lanjutan pendidikan dasar.

Pendidikan tinggi

Pendidikan tinggi adalah jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program sarjana, magister, doktor, dan spesialis yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi.

Jalur pendidikan

Jalur pendidikan adalah wahana yang dilalui peserta didik untuk mengembangkan potensi diri dalam suatu proses pendidikan yang sesuai dengan tujuan pendidikan.

[sunting] Pendidikan formal

Pendidikan formal merupakan pendidikan yang diselenggarakan di sekolah-sekolah pada umumnya. Jalur pendidikan ini mempunyai jenjang pendidikan yang jelas, mulai dari pendidikan dasar, pendidikan menengah, sampai pendidikan tinggi.

Pendidikan nonformal

Pendidikan nonformal paling banyak terdapat pada usia dini, serta pendidikan dasar, adalah TPA, atau Taman Pendidikan Al Quran,yang banyak terdapat di setiap mesjid dan Sekolah Minggu, yang terdapat di semua gereja.

Selain itu, ada juga berbagai kursus, diantaranya kursus musik, bimbingan belajar dan sebagainya. Program – program PNF yaitu Keaksaraan fungsional (KF); Pendidikan Kesetaraan A, B, C; Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD); Magang; dan sebagainya Lembaga PNF yaitu PKBM, SKB, BPPNFI, dan lain sebagainya.

Pendidikan informal

Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri yang dilakukan secara sadar dan bertanggung jawab.

Jenis pendidikan

Jenis pendidikan adalah kelompok yang didasarkan pada kekhususan tujuan pendidikan suatu satuan pendidikan.

Pendidikan umum

Pendidikan umum merupakan pendidikan dasar dan menengah yang mengutamakan perluasan pengetahuan yang diperlukan oleh peserta didik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Bentuknya: sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), dan sekolah menengah atas (SMA).

Pendidikan kejuruan

Pendidikan kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu. Bentuk satuan pendidikannya adalah sekolah menengah kejuruan (SMK).

Pendidikan akademik

Pendidikan akademik merupakan pendidikan tinggi program sarjana dan pascasarjana yang diarahkan terutama pada penguasaan disiplin ilmu pengetahuan tertentu.

Pendidikan profesi

Pendidikan profesi merupakan pendidikan tinggi setelah program sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk memasuki suatu profesi atau menjadi seorang profesional.

Pendidikan vokasi

Pendidikan vokasi merupakan pendidikan tinggi yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan keahlian terapan tertentu maksimal dalam jenjang diploma 4 setara dengan program sarjana (strata 1).

Pendidikan keagamaan

Pendidikan keagamaan merupakan pendidikan dasar, menengah, dan tinggi yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan dan pengalaman terhadap ajaran agama dan /atau menjadi ahli ilmu agama.

Pendidikan khusus

Pendidikan khusus merupakan penyelenggaraan pendidikan untuk peserta didik yang berkelainan atau peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa yang diselenggarakan secara inklusif (bergabung dengan sekolah biasa) atau berupa satuan pendidikan khusus pada tingkat pendidikan dasar dan menengah (dalam bentuk sekolah luar biasa/SLB).

Tingkatan pendidikan di Indonesia

oleh : Asbulloh, S.Pd

Usia Kelas Lembaga pendidikan
3 KB Taman Kanak-kanak
4 A
5 B
6 1 Sekolah dasar
7 2
8 3
9 4
10 5
11 6
12 7 Sekolah menengah pertama
13 8
14 9
15 10 Sekolah menengah atas/Sekolah kejuruan
16 11
17 12
18 Akademi/Institut/Politeknik/Sekolah tinggi/Universitas
19
20
21

PENDIDIKAN MELANDASI PERILAKU SESEORANG

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Jenjang pendidikan umum bentuknya: Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Namun menurut UU nomor 9 tahun 2009, jenjang pendidikan di Indonesia terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Yang dimaksud pendidikan dasar di Indonesia adalah wajib belajar 9 tahun yaitu SD/ MI dan SMP/ MTs. Pendidikan menengah yaitu SMA/ SMK. Pendidikan tinggi yaitu perguruan tinggi/ Akademi. Perilaku itu sendiri ditentukan atau terbentuk dari 3 faktor. a. Faktor-faktor predisposisi (predisposing factors), yang terwujud dalam pengetahuan, pendidikan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai, dan sebagainya. b. Faktor-faktor pendukung (enabling factors), yang terwujud dalam lingkungan fisik, tersedia atau tidak tersedianya fasilitas-fasilitas atau sarana-sarana umum. c. Faktor-faktor pendorong (reinforcing factors) yang terwujud dalam sikap dan perilaku kelompok referensi dari perilaku masyarakat.
Apakah yang dimaksud PENDIDIKAN melandasi PERILAKU SESEORANG??? 1. Orang dengan pendidikan yang tinggi cenderung lebih bisa mengendalikan dirinya dalam setiap tindakan yang dilakukan. 2. Orang dengan pendidikan yang tinggi cenderung lebih hati-hati dalam berucap/ bertutur kata. 3. Orang dengan pendidikan yang tinggi cenderung lebih cepat, tepat dan hati-hati dalam mengambil keputusan. 4. Orang dengan pendidikan yang rendah cenderung mudah terpengaruh orang lain, tanpa memandang baik dan buruknya terlebih dahulu, karena orang yang berpendidikan rendah pada umumnya menangkap informasi secara mentah-mentah.. 5. Orang dengan pendidikan yang rendah cenderung lebih mudah diberi masukan/ nasihat/ motivasi daripada orang yang berpendidikan tinggi, karena orang dengan pendidikan tinggi cenderung merasa dirinya lebih baik dan berpikir bahwa orang lain tidak bisa mengatur atau menasehatinya. Hal ini dikarenakan orang yang berpendidikan tinggi pada umumnya melihat siapa yang berbicara bukan apa yang dikatakan oleh orang itu. posted by Raharja, 17 Februari 2010. yaidas2010

Oleh: man15jaktim | 07/07/2010

Kabar Nasional

Satpol PP Masih Gunakan Pentungan & Alat Kejut

Rabu, 7 Juli 2010 19:16 WIB

Jakarta, (tvOne).

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Gamawan Fauzi menyatakan, meski anggota Satpol PP berwenang menggunakan senjata, namun untuk sementara mereka belum dapat menggunakannya karena belum ada pembinaan.

“Sementara waktu tidak dulu karena masih harus ada pembekalan dan pembinaan. Dalam waktu dekat tidak usah diizinkan, cukup dengan pentungan dan alat kejut,” kata Gamawan Fauzi, di Jakarta, Rabu (7/7).

Jika perlu pihaknya akan membuat surat edaran untuk menunda penggunaan senjata bagi Satpol PP apabila memungkinkan, tegas Mendagri.

Satpol PP, ujarnya, harus melalui pembinaan dan pelatihan sesuai dengan ketetapan sebelum dapat menggunakan senjata. Ketentuan itu sudah diatur dalam Permendagri Nomor 26 Tahun 2010 tentang Penggunaan Senjata Api (Senpi) bagi Anggota Satpol PP.

Gamawan menekankan, Permendagri telah mengatur dengan ketat persyaratan penggunaan dan pengadaaan senjata bagi Satpol PP. Kepolisian juga sangat selektif dalam memberikan izin pengadaan dan penggunaan senjata tersebut.

“Polisi yang menyatakan boleh atau tidak. Jika polisi menganggap belum layak dan belum saatnya menggunakan senjata, maka tidak diberikan,” ujarnya.

Lebih lanjut dia menuturkan, penggunaan senjata bagi Satpol PP dan jenisnya telah dikonsultasikan dengan Kepolisian.

“Kita sudah koordinasi dengan kepolisian dan sudah dijawab melalui surat Nomor 662 tanggal 10 Maret, maka kemudian kita terbitkan Permendagri,” ujarnya.

Gamawan mengatakan, Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2010 tentang Satpol PP, pasal 24 menyatakan untuk menunjang operasional, Polisi Pamong Praja dapat dilengkapi dengan senjata api yang pengaturan mengenai jenis dan ketentuan penggunaannya berdasarkan rekomendasi dari Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Dalam pasal tersebut disebutkan “Polisi Pamong Praja dapat dilengkapi dengan senjata api”. Dia menegaskan kata “dapat” itu diartikan, Satpol PP bisa menggunakan senjata dan bisa tidak.

“Kalimatnya Sapol PP `dapat` menggunakan senjata api, artinya bisa iya, bisa tidak,” katanya.

Mendagri telah mengeluarkan Permendagri 26/2010 sebagai tindaklanjut dari PP 6/2010 tentang Satpol PP. Jenis senjata yang dimaksud, sesuai Permendagri yaitu senjata peluru gas, semprotan gas, dan alat kejut listrik.

Sementara itu, Mendagri mengaku telah membahas tentang penggunaan senjata bagi Satpol PP dengan Menteri Koordinator Bidang Politik dan Hukum Djoko Suyanto.

Menanggapi kritik tentang penggunaan senjata bagi Satpol PP dari berbagai pihak, Mendagri menuturkan pihaknya menghormati pendapat semua pihak. (Yaidas2010)

Oleh: man15jaktim | 14/06/2010

Piala Dunia 2010

Go Koreaaa… Mana indonesiaku..??

Ayooooo Bangun Sepak Bola Indonesia..

Oleh Asbulloh, S.Pd

Gelandang Korea Selatan, Park Ji-Sung, menghindari takling pemain Yunani, Avraam Papadopoulos, pada laga pertama Grup B di Nelson Mandela Bay Stadium, Port Elizabeth, Afrika Selatan, Sabtu (12/6). (Jamie McDonald/Getty Images)

Ah, sebuah angin segar akhirnya datang. Korea Selatan sukses menundukkan Yunani 2-0 di Nelson Mandela Bay Stadium, Port Elizabeth. Tanda-tanda tim Asia bakal bersinar di Piala Dunia 2010?

Ketika hasil undian keluar, Korea Selatan dianggap harus bekerja keras untuk lolos dari Grup B. Pasalnya di grup ini bercokol juara dunia dua kali asal Amerika Selatan Argentina, raksasa Afrika Nigeria, dan jawara Piala Eropa 2004 Yunani.

Nama terakhir menjadi lawan pertama Korea Selatan, Sabtu malam. Hasilnya? Korea Selatan tampil luar biasa. Yunani disikat lewat gol pemain Kashima Antlers, Lee Jung-Soo, saat pertandingan baru berjalan di menit ke-7.

Seorang teman yang penggemar tim Inggris tadi mendukung Korea Selatan lantaran punya gelandang Park Jid-sung, dengan cepat meng-update statusnya. “Perfect goal Lee. J.S. Korea Rep. 1 – 0 Greece.

Dan ternyata, gelandang idolanya itulah yang kemudian mencetak gol kedua di menit ke-52. Saya langsung cek status di teman dan benar saja, langsung di update, “Wow, thats our boys, J S Park made a briliant goal! Korea Rep 2 – 0 Greece.

Satu yang belum bisa dilewati Korea adalah jumlah gol. Sejak pertama kali ikut tahun 1954 sampai saat ini, Korea belum bisa mencetak lebih dari dua gol. Toh, penampilan ciamik tadi malam, dua gol saja rasanya sudah oke seperti video di bawah ini.

Prestasi Korea Selatan di Piala Dunia:

Piala Dunia 1954
Babak Pertama: 0-0-2 (0-16)

Piala Dunia 1986
Babak pertama: 0-1-2 (4-7)

Piala Dunia 1990
Babak pertama: 3-0-0 (1-6)

Piala Dunia 1994
Babak pertama: 0-2-1 (4-5)

Piala Dunia 1998
Babak pertama: 0-1-2 (2-9)

Piala Dunia 2002
Peringkat empat: 3-2-2 (8-6)

Piala Dunia 2006
Babak pertama: 1-1-1 (3-4)

Hasil ini menempatkan Korea untuk sementara di puncak klasemen Grup B dengan nilai 3, sama dengan Argentina yang pada pertandingan beberapa jam setelahnya menundukkan Nigeria 1-0 berkat gol tunggal Gabriel Heinze.

Paling tidak, kemenangan ini akan jadi pemicu 3 wakil Asia lainnya untuk juga tampil bagus. Asutralia akan memulai debutnya dengan melawan Jerman di Grup D malam ini. Jepang yang ada di Grup E bertemu Kamerun, Senin (14/6) malam, dan Korea Utara langsung bertemu favorit, juara dunia lima kali, Brasil, Rabu (16/6). Korea sendiri akan bertanding lagi Kamis dengan menghadapi Argentina.

Oleh: man15jaktim | 08/06/2010

PENERIMAAN SISWA BARU 2010-2011

MAN 15 JAKARTA :
MENERIMA SISWA SISWI BARU TAHUN AJARAN 2010-2011
SEBAYAK 130 ORANG..UNTUK PENERIMAAN DI GELOMBANG I SEBANYAK 120 ORANG. DAN YANG AKAN DI SELEKSI SEBANYAK 100ORANG..
KEMUDIAN UNTUK GELOMBANG II MENRIMA KUOTA SEBNYAK 30 ORANG TERSELEKSI..
PEMBUKAAN GELOMBANG PERTAMA SUDAH DIMULAI TGL.20 MEI DAN PROSES SELEKSI TGL 7-8 JUNI 2010..
GELOMBANG II DIBUKA TGL 8-25 JUNI 2010, DAN PROSES SELEKSI TGL. 27 JUNI 2010..RED

Oleh: man15jaktim | 08/06/2010

Trik Para Tikus2..

Hatta: Dana Aspirasi Rp 15 Miliar Timbulkan Keranc

Asbulloh, S.Pd

Jakarta – Menko perekonomian Hatta Rajasa masih tidak menyetujui soal dana aspirasi Rp 15 miliar, Hatta menilai keberadaan dana aspirasi menimbulkan kerancuan.

Hatta menyatakan keberadaan dana aspirasi saat ini masih dalam tahap pembicaraan dan masih bersifat aspirasi dari masing-masing fraksi.

“Kalau hal yang berkaitan dengan dana APBN, semua itu dibicarakan berjenjang, mendesain, masing-masing komisi bicarakan terkait,” ujar Hatta di kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Selasa (7/6/2010).

Hatta menegaskan selama ini anggaran untuk daerah dalam APBN selalu tersalurkan.

“Rp 15 miliar nanti rancu, karena sudah habis dibagi untuk daerah di tanah air. Daerah yang perlu dana cepat, itu ada mekanisme dibicarakan komisi dan Banggar (badan Anggaran),” jelasnya.

Hatta kembali menegaskan, sebagai ketua PAN tidak setuju akan keberadaan dana aspirasi.

Dana Negara di gerogaoti terus oleh para tikus2 berdasi, daripada dana Aspirasi bukankah, ada yang lebih penting yaitu: untuk dana pendidikan biar murah dan semua anak negeri ini bisa menikmati pendidikan. lebih dari itu, masyarakat ga butuh dana cash yang diteriman langsung, tapi kebayakan masyarakat sekarang adalah ingin bekerja (bukan pengangguran seperti sekarang)..

Oleh: man15jaktim | 08/06/2010

MANUSIA CERDAS ADALAH MANUSIA YANG TIDAK MELAKUKAN KESALAHAN YANG SAMA..

Oleh: man15jaktim | 07/06/2010

Older Posts »

Kategori